Artikel Populer

Karakteristik Masyarakat Islam

Karakteristik Masyarakat Islam

بسم الله الرحمن الرحيم

اللّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ مِنْكَ في نعمة و عافية و ستر، فَأَتِمَّ عَلَيَّ نِعْمَتَكَ وَ عَافِيَتَكَ وَ سِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ

Ya Allah,  sesungguhnya aku memulai pagi ini dengan kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan-Mu. Maka sempurnakanlah untukku kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan-Mu itu, di dunia dan di akhirat...

Embun Pagi

المادة: اصلاح المجتمع

الموضوع: خصائص المجتمع الإسلامي

Karakteristik Masyarakat Islam Dalam Surat Al-Ahzab: Perkembangan dan Pertumbuhan Mujtama’ Islam dan Karakteristiknya

Islam sangat memperhatikan kehidupan sosial hingga pada permasalahan yang kecil, karena kehidupan sosial sangat memiliki pengaruh  yang besar terhadap kehidupan individu, dan memiliki hubungan yang erat dalam memberikan kebaikan. Baiknya individu akan berlanjut pada perbaikan keluarga, lalu masyarakat, negara hingga kehidupan umat di seluruh dunia, karena itu islam meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam pembangunannya dan benang merah –garis-garis- yang dapat menjaga dan memlihara eksistensinya dari pertentangan dan kemerosotan.

Karena itu alangkah baiknya kita mengenal lebih dahulu bagaimana Islam mempersiapkan anggotanya perindividu dan masyarakatnya ? dan bagaimana konsep Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam melakukan perbaikan masyarakat jahiliyah saat itu ? dan bagaimana ia mampu menghadapi musuh-musuh dan penentangnya dalam rangka mendirikan masyarakat madani dan menghindar dari tekanan dari kaum musyrikin dan orang-orang kafir sebagai musuh bebuyutan dan rintangan dari pandangan dan eksistensi mereka yang jahil tersebut ?

Sesungguhnya “dasar utama yang membuat kokohnya dan menjadi penggerak kondisi masyarakat Islam adalah akidah, yaitu akidah yang tercermin dalam beriman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab, para Rasul dan hari akhir dan takdir Allah”.[1]
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan) ; “Kami tidak membeda-bedakan antaraseseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan : “Kami dengar dan kami ta’at”. (mereka berdoa): “Ampunilah kami yang Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (Al-Baqarah : 285)

Bahwa akidah tersebut merupakan tanda dan syi’ar yang merupakan penjabaran dalam kalimat singkat yaitu “Bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Maksud dari akidah diatas adalah “meng-Esakan Allah dalam hal uluhiyah dan rububiyah, kekuatan dan kekuasaan serta hakim…meng-Esakannya yang terpatri dalam hati, ibadah dalam syiat-syiar dan syariat serta dalam praktek kehidupan”[2] 
keyakinan dan pengakuan yang telah difahami sejak awal oleh orang-orang musyrik dan kafir, mereka sangat khawatir dan takut semenjak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  mempropagandakannya, hal tersebut bukan karena tidak faham –sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya- akan makna yang mendalam dari hakikat tersebut namun  mereka takut keberadaan dan eksistensi mereka akan hilang, karena itu mereka berusaha keras menghalangi dan mencoba memberantasnya hingga akhir hayat mereka sehingga agama yang mereka anggap baru tersebut hilang dari muka bumi.

“Maksud dari tegaknya masyarakat diatas akidah Islam adalah berdiri dengan menghormati dan mensucikan akidahnya secara  utuh, dan berusaha memasukkannya dalam akal dan hati mereka, membimbing pertumbuhan Islam diatasnya, dan berusaha menghadapi dan mengcounter kebatilan yang dilancarakan oleh musuh-musuhnya, dari syubhat-syubhat orang-orang yang tersesat, bahkan berusaha menampakkan kelebihan-kelebihannya dan pengaruhnya dalam setiap kehidupan; baik individu maupun sosial kemasyarakatan”.[3]

Jadi akidah merupakan dasar utama yang kokoh pada setiap bangunan sosial yang kuat, dan merupakan unsur terpenting dalam menyatukan umat hingga berada dalam satu barisan dan satu anggota tubuh yang “terpisah dan bebas dari masyarakat jahili yang berusaha menghancurkan Islam”[4]

“Dan akidah ini belumlah bisa terpatri dalam jiwa mereka dan merasuk dalam hati mereka jika sekedar memeluk agama Islam, atau dengan mengucapkan dua kalimat syahadat; bersaksi tidak ada ilah selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah saja, bahkan tidak terwujudkan dengan hanya sekedar menegakkan kaidah-kaidah islam secara teori dalam jiwa setiap individunya, walaupun jumlah mereka begitu banyak, serta tidak hanya sekedar dalam kumpulan seperti satu anggota tubuh saling bergotong royong dan tolong-menolong, kecuali dirinya memiliki wujud yang tersendiri, setiap anggotanya bergerak secara bersamaan –seperti anggota tubuh yang hidup- dalam rangka menta’shil (mengorisinalkan) eksistensi dan keberadaannya, bergerak dibawah qiyadah yang merdeka dari qiyadah masyarakat lainnya…yaitu qiyadah yang baru, yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
dan yang setelahnya yang bertujuan mengembalikan manusia menuju pengakuan akan keesaan Allah, ketuhanan, kekuatan, hakim, kekuasaan dan syariat-Nya, melepas diri mereka yang telah berikrar bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah dari masyarakat jahiliyah”.[5]

Ketika periode Mekkah, Al-Quran turun dalam kurun waktu 13 tahun, pokok pembahasan yang diberikan adalah akidah, bahkan menjadi permasalahan yang mendasar pada saat itu, karena akidah merupakan rukun pertama dan penting bagi manusia secara individu dan sosial, dan dalam mendirikan masyarakat secara keseluruhan hingga dapat membekas dan memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat lainnya. Namun setelah datang perintah untuk hijrah ke Madinah sebagian ayat-ayat Al-Quran tentang akidah tidak begitu banyak kecuali “hanya pada batasan yang normal tidak  seperti pada periode Mekkah, karena pada periode Mekkah adalah sebagai ta’sis (peletakan batu pertama) yang tentunya sudah tegak berdiri, sementara pada periode Madinah masyarakat Islam pada hakekatnya telah berdiri dan bahkan negara Islam, namun masih membutuhkan akan system dan undang-undang yang mengaturnya, serta jihad di jalan Allah dalam rangka mempertahankan dan menghadang serangan dari pihak musuh, dan juga sebagai sarana menyebarkan Islam dimuka bumi”.

Demikianlah awal dari terbentuknya mujtama’ Islam, sebuah masyarakat yang memiliki ciri khas dan berbeda dengan masyarakat lainnya, merdeka dari ikatan dan system serta undang-undang yang lain, masyarakat yang terpancar dari satu prinsip yaitu akidah Islamiyah. Dan darinya mampu mengalahkan kebatilan yang dibuat oleh masyarakat jahiliyah, sebagaimana darinya juga menghasilkan “realitas kehidupan yang mengagumkan dalam penegakan masyarakat Islam tanpa ada perbedaan suku dan ras, perbedaan tempat tinggal dan warna, dan perbedaan jarak baik yang dekat maupun yang jauh…bahkan menjadi masyarakat yang terbuka bagi semua suku, ras, bahasa dan warna”.[6] 
Yaitu masyarakat yang mendunia mencakup segala lapisan masyarakat, tanpa ada perbedaan suku dan ras dan tempat tinggal. Seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai sekalian manusia sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan wanita, dan Kami jadikan berbangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal, sesungguhnya yang peling mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar”. (Al-Hujurat : 13)

Dalam hadits nabi juga disebutkan, dari Abi Nadroh[7], berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلىَ أَعْجَمِيٍّ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلىَ عَرَبِيٍّ وَلاَ لأَحْمَرَ عَلىَ أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلىَ أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

Wahai sekalian manusia ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu, ketahuilah tidak kelebihan bagi orang arab atas orang ajam, dan orang ajam atas orang arab, dan tidak orang berkulit merah dan hitam dan hitam atas merah kecuali taqwa…(HR. Imam Ahmad bin Hanbal)

Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam  adalah berskala international, yang di dalamnya diutus Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira bagi siapa yang mengikuti risalahnya dan beriman kepadanya dan pembawa peringatan kepada mereka yang ingkar dan kufur kepadanya, dan bukanlah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  tidaklah diutus untuk suku Quraisy, bukan untuk jazirah arab dan bangsa sam saja namun untuk umat manusia seluruhnya. Sebagaimana Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيراً وَنَذِيراً 

Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) kecuali untuk seluruh umat manusia untuk memberi kabar gembira dan peringatan…” (Saba’ : 28)

Dari sini jelas bahwa tugas utama yang diamanahkan Allah kepada umat Islam sebagai masyarakat yang memiliki keistimewaan “tidak lain kecuali memberikan petunjuk kepada manusia menuju kebaikan yang dibawa oleh Islam dan memelihara akidah Islam para pengikutnya”[8], kemudian “membersihkan masyarakat dari kedzaliman masyarakat lainnya melalui suatu invasi yang bersih…mengangkat manusia melalui system dan prilakunya dan dalam segala aspek kehidupan menuju puncak kemuliaan yang hal tersebut bisa diangkat sesudahnya dan sebelumnya melalui naungan Islam”[9], karena Islam merupakan agama yang sempurna dan komprehensip, mampu mendisiplinkan kehidupan umat manusia secara keseluruhan; baik dari segi ekonomi, politik, sosial dan system-sistem yang lainnya yang selalu ditemui dalam kehidupan sehari-hari, karena “Islam tidak menyelesaikan segala urusan yang beragam ini secara serampangan dan menguasainya secara parsial dan berpecah-pecah” [10], namun semuanya telah ada dalam syariat Islam dengan manhaj yang satu dan sumber yang satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui lisan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam “Tidak ada dalam akidah yang terpisah, system dan syariat yang berpencar-pencar, tidak juga ibadah dan muamalah namun semua adalah satu dan semuanya adalah ibadah”[11].

Ringkasnya adalah bahwa masyarakat yang hidup pada periode pertama adalah merupakan masyarakat yang istimewa yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembangunan masyarakat setelahnya. Masyarakat sangat istimewa dari masyarakat yang lainnya seperti masyarakat jahili pada saat itu dan masyarakat lainnya, karena masyarakat ini tumbuh pada prinsip yang satu, manhaj yang satu,  pemimpin yang satu, yaitu akidah Islam yang tertuang dalam dua kalimat syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan manhajnya adalah Al-Quran, sementara pemimpinnya adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam .

Namun di samping itu ada juga ciri khas lain; yaitu penafian akan perpecahan antar sesama anggota masyarakat, semuanya adalah satu, berada dalam satu tubuh yaitu Al-Islam, tidak ada yang saling memiliki kelebihan atau lebih baik antara perbedaan warna kulit, kaum/suku, individu atau jenis kelamin atau yang lainnya, yang membedakan mereka antara satu dengan yang lainnya adalah taqwa.

Dan masyarakat islam tidak tumbuh dengan tangan hampa tanpa ada system dan syariat karena hal tersebut merupakan keharusan guna memberikan batasan dalam geraknya agar tidak mengalami penyimpangan kepada jalan yang lain saat akan membentuk masyarakat yang baik, karena “syariah merupakan fenomena yang penting dalam perkembangan suatu masyarakat, dan akan terus sejalan dengan perkembangan zaman dan berada disampingnya yang akan selalu memenuhi panggilan, sehingga Islam terus mengalami perkembangan dan pembaharuan. Kerenanya bukanlah masyarakat Islam yang membentuk dan merekayasa undang-undang (syariah) namun syariahlah yang membentuk masyarakat Islam. Syariahlah yang memberikan batasan-batasan baik ciri dan karakteristiknya, dialah yang mengarahkan dan menunjuki jalan, dan syariah juga tidak hanya menjawab setiap peristiwa yang sifatnya sementara saja –seperti layaknya yang terjadi pada undang-undang konvensional- namun dia merupakan manhaj ilahi yang selalu mengikuti perkembangan kehidupan manusia secara keseluruhan, mencelupkannya dengan celupan yang tertentu, serta mendorongnya kepada kondisi menuju kesempurnaan dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang diidam-idamkan”.[12]

Terakhir, dapat kami sebutkan ungkapan salah seorang imam agung Abul A’la Al-Maududi[13]saat berbicara tentang kebangkitan Rasulullah  Shallallahu alaihi wa sallam untuk mewujudkan tujuan peribadatan dan membangun individu menuju pribadi yang baik dan masyarakat yang salih : “Lihatlah sejenak apa yang dilakukan oleh Nabi dari fase-fase dan kedisiplinan untuk mencapai kapada tujuan ini, beliau telah mendakwahkan manusia –pada permulaan dan sebelum sesuatunya- kepada iman dan hikmah dalam hati mereka, lalu dikuatkan kembali dalam kaidah-kaidah yang lebih luas dan lapang, lalu ditumbuhkan dan dibina pada mereka yang beriman kepadanya dengan ajaran dan pembinaan sesuai dengan kondisi keimanan mereka secara bertahap melalui ketaatan yang nyata –Islam- dan kebersihan akhlak –taqwa- cinta kepada Allah dan loyal kepada-Nya –Ihsan-. Kemudian disyariatkan  kepada mereka yang beriman dengan ikhlas dan disiplin secara berkelanjutan untuk berusaha menghancurkan system yang jahiliyah yang merusak dan menggantinya dengan system yang baru yaitu Islam, berdiri diatas kaidah akhlak dan madani yang diambil dari undang-undang yang telah diturunkan oleh Allah, Tuhan semesta alam.

Kemudian setelah dengan nyata mereka beriman dan mau menerima seruannya dalam berbagai aspeknya –dengan hati dan akal, jiwa dan akhlak, bahkan dengan ideology dan perbuatan mereka- sehingga mereka menjadi kaum muslimin yang bertaqwa dan muhsinin secara benar, lalu mereka berjalan menuju perbuatan yang selayaknya dilakukan oleh hamba-hamba yang muklis untuk dilakukan, demikian itulah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang telah berhasil mengarahkan mereka menuju kehidupan yang dihiasi dengan ketaqwaan, muhsin dalam etika, adab yang sopan; baik dalam bergerak, berpakaian, makan dan minum, kehidupan sehari-hari, berdiri dan duduk, dan lain sebagainya dari urusan-urusan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari”.[14]

Adapun karakteristik masyarakat Islam ada 4 point sebagai berikut :

1. Rabbani

Pada sebelumnya kami telah sebutkan bahwa yang pertama kali diletakkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam membangun individu umat dan pembentukan masyarakat Islam adalah pengokohan akidah Islam dalam sanubari umat dan yang menjadi pengarah utama pada ideology, suluk, prilaku dan perbuatan mereka.

Maka tidak diragukan lagi bagi pondasi ini memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan suatu masyarakat disepanjang masa dan seitap tempat. Karena ketika pondasi ini telah merasuk dalam jiwa setiap individu msayarakat dan dibentangkan manhaj-manhaj yang harus dijalaninya, serta syariat yang memberikan jaminan terhadap jiwa, kehormatan dan harta mereka. Memberikan batasan terhadap ibadah, pemahaman dan syiar-syiar mereka dibawah satu naungan yaitu Al-Quran yang datang dari yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji, dan sunnah Nabi sebagai penjelas dari hukum-hukum dan syariat yang dibawa oleh Al-Quran.

Dan masyarakat yang dibangun diatas pondasi-pondasi ini dan menyatu dalam setiap individunya akidah yang bersih maka disebut dengan masyarakat rabbani yang selalu menjadi jalan Allah yang telah diambil oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan manhajnya sebagai tauladan dan cerminan dalam perjalanan hidupnya demi menggapai ridlo Allah.

Komunitas muslim pada masa awal –masa nabi dan sahabatnya- merupakan komunitas masyarakat percontohan dan tauladan yang baik, karena mereka dibangun diatas pondasi yang rabbani yang diimplementasikan dalam akidah Islam dan diaktualisasikan dalam segala aspek kehidupan; baik sosial, ekonomi, politik, mu’amalah dan lain sebagainya. Para ulama menganggap mereka sebagai “Penunggang Kuda disiang hari dan ahli ibadah dimalam harinya”, karena mereka menjadikan siang untuk mencari nafkah dan menyebarkan dakwah islam demi mencari ridla Allah, dan menjadikan malamnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, beribadah dan membaca Al-Quran, shalat sunnah, bersimpuh ditengah malam dengan penuh perasaan lemah dan butuh dihadapan yang Maha Kuasa.

Karena itu diantara karakteristik komunitas Islam adalah mujtama rabbani yaitu komunitas yang menjadikan akidah Islam sebgai dasar dan pondasi utama dalam pembangunan dan pendiriannya, menjadikan syariat sebagai manhaj hidupnya.

Jadi jika masyrakat kontemporer ingin membentuk masyarakat yang islami dan menjadi taudalan bagi masyarakat lainnya, maka hendaknya mengikuti petunjuk yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan dipraktekkan oleh para sahabatnya.

2. Berperadaban

Sesungguhnya ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah motivasi kepada umatnya untuk belajar dan membaca serta menelaah dari beberapa kejadian alam. Karena Islam –pada hakekatnya- telah memberikan kesadaran kepada umatnya untuk belajar dan menjadikan akal sebagai kunci menyelesaikan berbagai masalah, menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memahami sisi-sisi kehidupan dan sarana membangun peradaban dan kemajuan jaman dan bahkan untuk membimbing umat kejalan yang lurus dan jalan kebenaran.

Karena itu jelas sudah bahwa Islam adalah risalah yang membawa pada pembangunan dan kemuliaan, kekuatan dan kharisma, membawa pada peradaban dan kemajuan. Dimana, suatu peradaban tidaklah akan maju kecuali dengan ilmu dan akal, sementara mundurnya suatu umat dan terancam pada kebangkrutan dan kehancuran karena kejahilan dan mendisposisikan kekuatan akal.

“Karena itu Islam dan Al-Quran merupakan pintu revolusi dan pencerah ilmu dan pengetahuan, penggamblangan secara nyata yang mengajak untuk memfungsikan akal dan ideology, kehidupan untuk beramal dan berbuat, dan pengekplorasian sumber daya alam”.[15]

Dengan demikian Islam selalu menekankan untuk menuntut ilmu dan memfungsikan akalnya dan mengajaknya dengan seruan yang nyata, karena ilmu dan akal merupakan perangkat dan sarana untuk mencipta dan berkarya, dengannya kehidupan manusia menjadi maju hingga pada titik peradaban yang pasti.

Dan tidak cukup hanya disini, Islam juga mewajibkan kepada umat untuk menuntut ilmu yang tidak kalah dengan kewajiban lainnya, sebagaimana ilmu dijadikan sebagai tolok ukur yang utama diterimanya keimanan seseorang, karena Allah dalam banyak ayat-ayat-Nya sangat mencela taqlid dalam akidah dan tidak boleh, taklid diwariskan dalam masalah keyakinan.

“Sebagaiman ilmu yang diperintahkan Islam untuk dipelajari tidak hanya sebatas pada bidang keagamaan saja, tapi mencakup berbagai bidang keilmuan; baik perundang-undangan, perdagangan, adab (sastra), matematika, kimia, fisika, ilmu-ilmu terapan dalam bidang perdagangan, industri dan pertanian, penggunaan teknologi, sarana pengembang biakan, produksi dan impor, semua itu merupakan fardlu kifayah bagi setiap umat agar dapat mencapai kemajuan baik internal maupun eksternal”.[16]

Komunitas muslim adalah komunitas yang berperadaban, yang memandang ilmu sebagai sarana memakmurkan bumi dan jalan menuju kemajuan, sebagaimana juga ilmu menjadi sarana pembersih jiwa yaitu dengan menyatukan antara ilmu duniawi dan ukhrawi, antara materi dan ruh, antara fenomena kehidupan dunia dan akhirat. Mereka memandang bahwa berbagai ciri khusus sosial, agama, akhlak, tekhnologi dan seni yang terbentang dibelahan dunia bukanlah satu-satunya jalan menuju kemajuan peradaban dunia belaka namun juga sebagai sarana peningkatan kehidupan individu dan kesuciannya, jalan untuk berta’ammul dan tafakkur terhadap berbagai kenikmatan yang telah Allah anugrahkan kepada mereka; baik yang hissiyah atau ma’nawiyyah, yang tampak atau yang tidak tampak, sehingga dirasakan akan ke-Esaan dan ke-Kuasaan Allah.

Disaat peradaban Barat hanya menggantungkan kemajuan mereka pada materi saja, Islam sangat memperhatikan ruh dan meteri, ideology yang membangun dan baik, akhlak yang baik dan mulia, akidah yang bersih, dan tidak mengenyampingkan satu sisi terhadap sisi yang lainnya, sehingga perjalanan hidup manusia menuju peradaban tidak sia-sia namun mampu lestari dan kontinyu demi kebaikan umat manusia secara keseluruhan.

Dan diantara keistimewaan peradaban Islam adalah tidak mengenal akan adanya malas dan tertutup, fanatik, ras dan suku, namun peradaban yang terbuka untuk kemaslahatan umat manusia seluruhnya, sebagimana Allah berfirman dalam menjelaskan tugas Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami utus kamu kecuali sebagai pemberi rahmat untuk sekaian alam”. (Al-Anbiya : 107)

3. Mutawazin (Seimbang)

Jika al-hadlarah yang dibangun Islam tegak diatas kesadaran fitrah antara materi dan ruh, dan ikatan yang erat antara bumi dan langit, antara perbaikan jasmani dan rohani, dan penyatuan tujuan antara kehidupan dunia dan akhirat, maka disitulah letak keseimbangan antara berbagai perkara kehidupan dunia.

Islam pada dasarnya memiliki ciri khas tersendiri dan memiliki tonggak yang kuat yaitu keseimbangan, keseimbangan dalam arahan-arahannya, yang dilestarikan dalam berbagai tekanan dari berbagai arah, tidak berlebih-lebihan, dan mengalami bentrokan dengan yang lainnya.

Dari sini umat Islam juga dikenal dengan umat yang seimbang, yaitu umat yang tidak mengenal akan berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah atau berlebihan dalam berbuat untuk memakmurkan bumi. Tidak memandang materi hanya untuk kesenangan duniawi saja, tapi juga untuk memakmurkan dunia dan peradabannya, membersihkan diri dari kotoran dan penindasan, melalui pembersihan hati setiap individu dari pandangan sebelah mata terhadap kehidupan dunia. Al-Quran telah memperingatkan kepada manusia untuk tidak melupakan kehidupan dunia dalam rangka mencari kebahagiaan di akhirat, sebagaiman firman Allah :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah kamu terhadap apa yang telah Allah berikan untuk kebahagiaan di akhirat dan jangan kau lupakan terhadap kehidupan dunia” (Al-Qashash : 77)

Allah juga berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah (wahai Muhammad) bekerjalah kalian, semoga Allah akan melihat perbuatan kalian, dan rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Tahu akan yang ghaib dan nyata lalu mengabarkan kalian apa-apa yang telah kalian lakukan”. (At-Taubah : 105)“
Allah telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bersikap seimbang dalam segala hal, baik akidah, ibadah, muamalah, interaksi atau yang lainnya, karena fitrah manusia menunjukkan akan hal tersebut.

Akidah misalnya, adalah merupakan pengejewantahan antara fitrah basyariyah dengan akalnya, antara yang menjadi seruan di dalamnya dan kerinduan. Tidaklah dianggap akidah yang benar terhadap sesuatu yang tidak dikenal dan diketahui, antara yang menentramkan hati dan akal. Seperti keyakinan terhadap dzat Allah; Wujud, Wahdaniyah, qudrah, iradah dan lain sebagainya…atau keberadaan dunia dengan hakekatnya, sumbernya dan penciptaannya, serta hubungannya dengan sang pencipta, dan peribadatannya kepada-Nya, dan lain sebagainya…atau tentang kehidupan dengan berbagai macam bentuknya, jenisnya, dan tingkatannya serta hubungannya dengan Penciptanya…atau tentang manusia itu sendiri dari hakikatnya, karakteristiknya, sumbernya dan tujuan diciptakan serta manhaj hidupnya…semuanya mesti menggunakan akal untuk mengenalnya, dan kembali pada logika yang jelas dan gamblang, menentramkan akal dan hati. Ditopang dengan bukti-bukti yang berkesesuaian dengan fitrah dengan penuh penerimaan dan ketundukan, sehingga membawa pada apa yang dilakukan oleh manusia yaitu beribadah kepada yang menciptakan manusia dan bumi ini”.[17]

Adapun keseimbangan masyarakat muslim dalam ibadahnya adalah bahwa disaat setiap individu melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan ibadah mahdoh tidak dengan berlebih-lebihan, atau kurang dan melampui batas, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Karena Allah tidak pernah memerintahkan suatu kewajiban kecuali atas dasar kemampuan mereka itu sendiri, seperti firman-Nya :

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani diri seseorang kecuali karena kemampuaannya” (Al-Baqarah : 276)

Apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam mereka ambil dan mereka laksanakan dan apa yang dilarang mereka tinggalkan tanpa ada yang dilebihkan atau dikurangi.

4. Tidak apartheid

Masyarakat Islam juga dibangun atas dasar agama dalam segala aspeknya, baik dalam pandangannya, geraknya, tujuan dan misinya, masyarakat yang tidak mengenal perbedaan ras atau suku, tidak terbatas hanya pada satu negara tertentu dan warna kulit, tapi merupakan masyarakat yang luas yang hanya bersumber pada satu titik perbedaan yaitu taqwa dan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Masyarakat Islam adalah komunitas yang bebas dan terbuka, yang dapat dimiliki oleh individu, kelompok dan bangsa sekalipun, semuanya bisa masuk dan bergabung didalamnya tanpa harus ada rekomendasi/izin, ikatan dan syarat terntentu, tidak ada batas dalam jenis kelamin, warna kulit, bahasa dan batas territorial”.

Manusia dalam pandangan Al-Quran adalah sama, tidak ada perbedaan darah, keturunan, ras dan bahasa kecuali taqwa dan amal salih, seperti yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai sekalian manusia sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan wanita, dan Kami jadikan berbangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal, sesungguhnya yang peling mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar”. (Al-Hujurat : 13)

[1]. Lihat “Malamih Al-mujtama’ al-ladzi nunsiduhu” hal. 9.

[2]. Ma’alim fi at-thoriq. Hal. 44, 55.

[3]. Malamih mujtam Al-muslim, hal. 23-24

[4]. Ma’alim fi at-thoriq. Hal. 56

[5]. Ma’alim fi at-thoriq. Hal. 56-57

[6]. Ma’alim fi at-thoriq, hal. 92

[7]. Abi Nadroh adalah An-Nadr bin Malik bin Qit’ah al-abdi Al-Auqi, seorang ulama tabiin, berasal dari negeri basroh, wafat pada tahun 108 H.

[8]. Nahwa Mujtama islami, Hal. 100

[9]. Ma’alim fi at-thariq, Hal. 34

[10]. Al-Adalah al-ijtimaiyyah, Sayyid Qutb, Hal. 20, Dar el-Syuruq th. 1410 H/1995 M

[11]. Dirasat Quraniyyah, hal. 266

[12]. Nahwa mujtama Islam, hal. 64-65

[13]. Al-Maududi adalah seorang penulis dan ulama kontemporer yang berasal dari Pkistan, beliau adalah rector pada universitas Islam di Pakistan, baliau memiliki banyak karya tulis dengan berbahasa arab seperti tafsir surat an-nur, nahnu wal hadloroh all-gorbiyyah dan lain-lainnya.

[14]. Al-Usus Al-akhlaqiyyah lilharakah al-islamiyyah, Abul a’al Al-Maududi, hal. 73-75, maktabah al-quds, th. 1993, Kurdasah, jizah.

[15]. Al-Quran Al-Karim baniyyatuhu at-tasyri’iyyah wa khasaisuhu al-hadlariyyah, hal. 71

[16]. Lihat marja’ sebelumnya, hal. 73

[17]. Lihat “Khasais at-tashawwur al-islami wa muqawwimatuhu, Sayyid Qutb, hal. 119-120, dar el syarq, 1415 H/1995 M


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas mollis nisl sed egestas mattis. ...

Nisa Rahmawati
Kategori