Artikel Populer

Manusia berbeda-beda dalam memahami nasehat

Manusia berbeda-beda dalam memahami nasehat

Kesadaran sering kali menyeruak kala sebuah nasehat mengetuk telinga seseorang. Namun, sesaat setela ia meninggalkan majelis tempat nasihat tersebut diberikan kepadanya,  kekerasan hati dan kelalaian jiwa kembali merajai.

 

Aku mencoba mencari tahu penyebabnya hingga aku pun berhasil mengetahuinya. Aku bahkan mengetahui bahwa manusia tidak sama dalam kemampuan mempertahankan kesadaran tersebut. Secara umum hati tak terjaga lagi sesudah mendengarkan nasihat dikarenakan dua faktor:

 

1. Nasihat seumpama cambuk, rasa sakit yang diakibatkannya tak terasa lagi sesudah ia diangkat dari objeknya.

 

2. Saat mendengarkan nasihat, kondisi seseorang benar-benar steril dari segala sesuatu. Kala itu ia telah berlepas diri dari kesibukan-kesibukan duniawi dengan jiwa dan raganya, dan ia cuma memfokuskan hatinya pada apa yang tengah didengarnya. Tapi, saat ia kembali kepada kesibukan-kesibukan dunia, ia pun kembali terpesona dengan hiasan-hiasannya, maka bagaimana mungkin ia akan tetap seperti sediakala?!

 

Tak sampai disitu, ternyata orang-orang yang sadar saat mendengarkan nasihat itu pun ternyata tidak sama dalam kemampuan mempertahankan kesadarannya.

 

Di antara mereka ada sekelompok orang yang  membulatkan tekad untuk tetap berada dalam kesadarannya, tanpa mau menoleh sedikit pun ke belakang,  dan kalau pun kafilah syahwat mau menghentikannya tentu mereka akan berteriak keras-kerasa menolaknya, seperti yang dikatakan Hanzhalah tentang dirinya sendiri, "Hanzhalah telah berbuat nifak!"

 

Di antara mereka ada sekelompok orang yang suatu waktu dihasung hawa nafsu untuk melupakan apa yang telah didengarnya, namun pada kali yang lain nasihat-nasihat yang telah dipersembahkan kepadanya menyerunya untuk mengamalkannya; mereka laksana batang padi yang dipermainkan oleh terpaan angin ke sana ke mari. Dan ada pula sekelompok orang yang terpengaruh oleh nasihat hanya saat mendengarkannya saja,  kelompok ini sama seperti air yang Anda alirkan di atas batu karang yang halus....

 

Kitab asli Shaid al-Khathir, karya Asy-Syaikh Abul-Faraj Abdurrahman bin Ali al-Jauzi (Ibnu Al-Jauzi), Dar al-Yamamah Damaskus Beirut.

 

Edisi Indonesia:

Shaid al-Khathir Nasihat Bijak Penyegar Iman,  Darul Uswah, penerjemah ustadz Abdul Majid Lc.


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kategori