DPD PUI Kab. Kuningan gelar FUSI PUI ke 61 dan Parent Gathering

DPD PUI Kab. Kuningan gelar FUSI PUI ke 61 dan Parent Gathering

Dpd pui kab. Kuningan mengadakan acara peringatan fusi pui ke-64 tingkat Kab. Kuningan dilanjutkan dengan acara Parents Gadering yang di isi oleh ibu Netty (Ibu Gubernur Jawa Barat) dan Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi sebagai ketua Komnas Perlindungan Anak Republik Indonesia). Acara yang di gelar Di gelanggang olah raga ewangga kab. Kuningan dihadiri oleh sekitar 5000 jamaah lebih dari seluruh penjuru Kab. Kuningan sehingga memaksa sebagian peserta duduk di palataran dan di atas tangga karena kapasitas tempat duduk yang di sediakan tidak cukup padahal panitia sudah memberikan tambahan kursi. Peringatan Fusi ke-64 ini bekerjasama dengan Antangin anak Junior, Jawa Pos, Radar Kuningan, Dinas Pendidikan Prov. Jawa barat dan masih banyak lagi instansi terkait.

 

Acara diawali dengan penampilan anak-anak tunanetra dengan group band nya bernama mata hilang, mungkin nama ini diambil karena semua personil mereka tuna netra. Lagu-lagu yang dinyanyikan semuanya bernuansa religi dan musik positif. Selanjutnya acara Dilanjutkan dengan sejenak mengheningkan cipta karena belum lama Kab. Kuningan telah di tinggalkan oleh sosok Ibu Bupati Kuningan. Ibu Hj. Utje Ch Hamid Suganda yang baru 6 hari meninggal ini setelah melaksanakan Rapat Dinas. Beliau adalah sosok pekerja keras, dan tidak mengenal waktu dan batas wilayah, semangat inilah yang akan terus di pegang teguh oleh semua pejabat di lingkungan Kab. Kuningan.

Dalam sambutannya, DRs. Toto Toharudin sebagai ketua Pelaksana sekaligus Ketua DPD PUI Kab. Kuningan memberikan sambutan dan menjalaskan tentang sejarah PUI dan Fusi PUI. awal berdirinya Ormas PUI adalah ketika tahun 1911 adalah Majlisul Ilmi didirikan di Majalengka oleh KH. Abdul Halim kemudian Tahun 1912 MI mengubah nama menjadi Hayatul Qulub (HQ) yang berarti “menghidupkan hati”. Setelah peristiwa aksi pemogokan buruh pabrik gula di Majalengka dalam rangka melawan penindasan penguasa Belanda, HQ makin diawasi dan dicurigai Belanda. Lalu, atas anjuran banyak pihak, antara lain dari tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Cokroaminoto, HQ berubah nama menjadi Persyarikatan Oelama (PO) tahun 1916.

Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi, Jawa Barat. Pada awalnya, PUII bernama Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII). Pada masa pendudukan Jepang, AII sebagai anggota MIAI mengalami proses yang sama seperti PO. Pada saat itulah AII berganti nama menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) tahun 1942 dan berubah nama lagi tahun 1947 menurut Ejaan Soewandi menjadi PUII.

Perjuangan PUII Sukabumi sejak awal secara prinsip sama dengan PUI Majalengka. Faktor utamanya, karena kedua pendiri organisasi itu, yakniKH. Ahmad Sanusi dan KH. Abdul Halim, adalah sahabat karib yang sama-sama menimba ilmi di Mekah, Arab Saudi, antara tahun 1908-1911 M. Istilahnya, keduanya “saguru saeilmu”, satu guru satu ilmu.

Pada berbagai kesempatan, betapapun sibuknya mereka sebagai wakil-wakil rakyat dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyumbi Choosakai, mereka menyempatkan diri untuk menyusun rencana teknis pelaksanaan fusi kedua organisasi mereka. maka tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H, PUI dan PUII resmi berfusi menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI).Tanggal 5 April pun dinyatakan sebagai “Hari Fusi PUI”.

Dalam beramal, PUI berpedoman pada Ishlahuts Tsamaniyah atau Perbaikan Delapan bidang, yaitu: Perbaikan Keyakinan (Ishlah ‘Aqidah), Perbaikan Ibadah (Ishlah Ibadah), PerbaiDPD PUI KAB.KUNINGAN GELAR FUSI PUI KE-64

Dpd pui kab. Kuningan mengadakan acara peringatan fusi pui ke-64 tingkat Kab. Kuningan dilanjutkan dengan acara Parents Gadering yang di isi oleh ibu Netty (Ibu Gubernur Jawa Barat) dan Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi sebagai ketua Komnas Perlindungan Anak Republik Indonesia). Acara yang di gelar Di gelanggang olah raga ewangga kab. Kuningan dihadiri oleh sekitar 5000 jamaah lebih dari seluruh penjuru Kab. Kuningan sehingga memaksa sebagian peserta duduk di palataran dan di atas tangga karena kapasitas tempat duduk yang di sediakan tidak cukup padahal panitia sudah memberikan tambahan kursi. . Selasa, 12 april 2016

 

Acara diawali dengan penampilan anak-anak tunanetra dengan group band nya bernama mata hilang, mungkin nama ini diambil karena semua personil mereka tuna netra. Lagu-lagu yang dinyanyikan semuanya bernuansa religi dan musik positif. Selanjutnya acara Dilanjutkan dengan sejenak mengheningkan cipta karena belum lama Kab. Kuningan telah di tinggalkan oleh sosok Ibu Bupati Kuningan. Ibu Hj. Utje Ch Hamid Suganda yang baru 6 hari meninggal ini setelah melaksanakan Rapat Dinas. Beliau adalah sosok pekerja keras, dan tidak mengenal waktu dan batas wilayah, semangat inilah yang akan terus di pegang teguh oleh semua pejabat di lingkungan Kab. Kuningan.

Dalam sambutannya, DRs. Toto Toharudin sebagai ketua Pelaksana sekaligus Ketua DPD PUI Kab. Kuningan memberikan sambutan dan menjalaskan tentang sejarah PUI dan Fusi PUI. awal berdirinya Ormas PUI adalah ketika tahun 1911 adalah Majlisul Ilmi didirikan di Majalengka oleh KH. Abdul Halim kemudian Tahun 1912 MI mengubah nama menjadi Hayatul Qulub (HQ) yang berarti “menghidupkan hati”. Setelah peristiwa aksi pemogokan buruh pabrik gula di Majalengka dalam rangka melawan penindasan penguasa Belanda, HQ makin diawasi dan dicurigai Belanda. Lalu, atas anjuran banyak pihak, antara lain dari tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Cokroaminoto, HQ berubah nama menjadi Persyarikatan Oelama (PO) tahun 1916.

Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi, Jawa Barat. Pada awalnya, PUII bernama Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII). Pada masa pendudukan Jepang, AII sebagai anggota MIAI mengalami proses yang sama seperti PO. Pada saat itulah AII berganti nama menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) tahun 1942 dan berubah nama lagi tahun 1947 menurut Ejaan Soewandi menjadi PUII.

Perjuangan PUII Sukabumi sejak awal secara prinsip sama dengan PUI Majalengka. Faktor utamanya, karena kedua pendiri organisasi itu, yakniKH. Ahmad Sanusi dan KH. Abdul Halim, adalah sahabat karib yang sama-sama menimba ilmi di Mekah, Arab Saudi, antara tahun 1908-1911 M. Istilahnya, keduanya “saguru saeilmu”, satu guru satu ilmu.

Pada berbagai kesempatan, betapapun sibuknya mereka sebagai wakil-wakil rakyat dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyumbi Choosakai, mereka menyempatkan diri untuk menyusun rencana teknis pelaksanaan fusi kedua organisasi mereka. maka tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H, PUI dan PUII resmi berfusi menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI).Tanggal 5 April pun dinyatakan sebagai “Hari Fusi PUI”.

Dalam beramal, PUI berpedoman pada Ishlahuts Tsamaniyah atau Perbaikan Delapan bidang, yaitu: Perbaikan Keyakinan (Ishlah ‘Aqidah), Perbaikan Ibadah (Ishlah Ibadah), Perbaikan Pendidikan (Ishlah Tarbiyah), Perbaikan Keluarga (Ishlah ‘Ailah), Perbaikan Tradisi (Ishlah ‘Adah), Perbaikan Ummat (Ishlah Ummah), dan Perbaikan Masyarakat secara keseluruhan (Ishlah Muj’tama). (Sejarah PUI)

Acarapun dilanjutkan dengan pemaparan dari dua Nara Sumber yaitu ibu Netty (Ibu Gubernur Jawa Barat) dan Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi sebagai ketua Komnas Perlindungan Anak Republik Indonesia).

 kan Pendidikan (Ishlah Tarbiyah), Perbaikan Keluarga (Ishlah ‘Ailah), Perbaikan Tradisi (Ishlah ‘Adah), Perbaikan Ummat (Ishlah UPeringatan Fusi ke-64 ini bekerjasama dengan Antangin anak Junior, Jawa Pos, Radar Kuningan, Dinas Pendidikan Prov. Jawa barat dan masih banyak lagi instansi terkait.

Acarapun dilanjutkan dengan pemaparan dari dua Nara Sumber yaitu ibu Netty (Ibu Gubernur Jawa Barat) dan Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi sebagai ketua Komnas Perlindungan Anak Republik Indonesia).

Sumber : http://puipusat.org/dpd-pui-kab-kuningan-gelar-fusi-pui-ke-61-dan-parent-gathering-detail-22535