Ikhlas Dalam Beramal

Ikhlas Dalam Beramal

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ} [الزمر (٣٩) : ٢

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Quran)  dengan (membawa)  kebenaran. Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Az-Zumar [39]: 2)

Jalan itu bermula dari sini,  dari pintu ikhlas. Barangsiapa ingin sampai tujuan, ia harus melalui pintu ini. Allah Ta'ala berfirman,

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِيفَاعْبُدُوا مَا شِئْتُم مِّن دُونِهِ ۗ [الزمر(٣٩) : ١٤-١٥]

"Katakanlah (Muhammad), 'Hanya Allah saja yang aku ibadahi dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku. Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang yang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia'." (QS. Az-Zumar [39]: 14-15). Orang yang mengharap amalannya diterima, ia akan bersungguh-sungguh menempuh jalan ini.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan, "Telah tersingkap bagi para pendidik hati dengan sinar iman dan cahaya Al-Quran, bahwa mereka tidak meraih kebahagiaan kecuali m dengan ilmu, amal dan ibadah. Semua orang akan celaka kecuali orang-orang berilmu; orang-orang berilmu akan celaka kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya; mereka yang mengamalkan ilmunya juga celaka kecuali mereka yang ikhlas dalam beramal, dan mereka yang ikhlas juga terancam bahaya yang besar. (Ihya 'Ulumuddin: 4/521)

Ikhlas, sebagaimana dikatakan Al-Junaid adalah, "Rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui oleh malaikat sehingga menulisnya, atau setan sehingga nerusaknya, dan juga hawa nafsu sehinga mengganggunya." (Madarijus-Salikin, Ibnul Qayyim: 2/89).

Atau yang sebagaimana dikatakan Ruaim bin Ahmad, "Ikhlas adalah engkau tidak menengok apa yang telah engkau kerjajan." (Shifatush-Shahwah: 2/684)

Atau yang dikatakan Sahal bin Abdillah At-Tustary, "Orang-orang bijak mencari kata yang tepat untuk mendefinisikan ikhlas. Mereka tidak mendapatkan itu kecuali: hendaklah setiap gerak dan diamnya dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan hanya karena Allah Ta'ala semata, tidak bercampur dengan sesuatu pun, baik itu hawa nafsu maupun dunia." (Shalahul-Ummah Fi 'Uluwil Himmah, Dr. Sayid Al-Affany: 1/107)

Atau seperti yang dikatakan Ibnul Qayyim, "Yaitu memurnikan amalan dari perhatian makhluk, dan menjauhkannya dari perhatian makhluk bahkan dari dirinya sendiri. Barangsiapa menganggap amalannya telah ikhlas maka keikhlasannya perlu keikhlasan lagi. Dikatakan pula bahwa ikhlas adalah melupakan perhatian makhluk dengan selalu mencari perhatian Sang Khalik. (Madarijus-Salikin: 2/89)

Para salafus saleh adalah madrasah keikhlasan. Dari mereka kita bisa belajar dan melalui petunjuk mereka kita bisa menempa diri. Orang-orang yang mulia telah tiada, yang tersisa hanya kawan riya dan suka tidur. Betapa jauh perbedaan antara zaman kita dan zaman mereka?  Fudhail bin Iyadh berkata, "Kita pernah menjumpai orang-orang yang berbuat riya dengan apa yang mereka kerjakan. Namun sekarang, orang malah berbuat riya dengan apa yang tidak mereka kerjakan. (Shalahul-Ummah Fi 'Uluwil Himmah: 1/105)
Apa yang akan beliau (Fudhail bin Iyadh) katakan andaikata beliau hidup pada zaman kita?

كتاب: لمحة تربوية من حياة التابعين 
Edisi Indonesia:
Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi'in, ustadz Asyraf Hasan Thabal

Sumber : http://puipusat.org/ikhlas-dalam-beramal-detail-21506