Ikhlas Dasar Pengabdian Kami

Ikhlas Dasar Pengabdian Kami



فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ [التوبة : ١٢٩]

*"Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (At-Taubah [9]: 129)*

*
الإخلاص مبدؤنا*
*Ikhlas Dasar Pengabdian Kami*


Definisi Ikhlas menurut beberapa Ulama:

1. Asy-Syaikh Fudhail bin Iyadh berkata,"Tidak melakukan sesuatu amal karena manusia, sebab hal itu disebut riya. Beramal karena manusia adalah syirik. Dapat dikatakan sebagai orang yang ikhlas, jika Allah sudah membebaskan dirimu dari kedua sifat buruk tersebut."

2. Asy-Syaikh Junaid berkata,"Ikhlas adalah rahasia antara Allah dengan hamba-Nya. Malaikat tidak mengetahui rahasia tersebut sehingga dia tidak berani menulisnya dan setan juga tidak mampu mengetahuinya sehingga tidak bisa merusaknya. Begitu juga hawa nafsu, sehingga ia tidak bisa condongnya kepadanya."

3. Asy-Syaikh Makhul berkata,"Tidaklah seorang hamba berbuat ikhlas selama empat puluh hari kecuali akan keluar sumber-sumber hikmah dari hatinya lewat lisannya."

4. Asy-Syaijh Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, "Apabila seorang hamba berbuat ikhlas, maka terputuslah sifat was-was dan riya."

5. Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata untuk menjawab pertanyaan salah seorang muridnya, "Engkau bertanya kepadaku tentang ikhlas. Ikhlas adalah apabila semua perbuatan yang engkau lakukan semata-mata karena Allah, hatimu tidak tenang dengan berbagai pujian manusia, dan tidak peduli dengan celaan mereka."

6. Asy-Syaikh Yusuf bin Husain berkata, "Hal yang paling berat di dunia ini adalah ikhlas. Setiap saya berusaha menghilangkan sifat riya dari hatiku, seakan-akan riya itu muncul lagi dengan bentuk yang lain."

7. Asy-Syaikh Fudhail bin Iyadh menggambarkan tabiat ikhlas dalam amal dengan berkata, "Amal yang baik adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar." Teman-temannya bertanya, "Hai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan amal paling ikhlas dan paling benar?" Asy-Syaikh Fudhail berkata, "Apabila suatu amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima dan apabila dilakukan dengan benar tetapi tidak ikhlas tidak diterima, sehingga amal itu dilakukan dengan ikhlas dan benar."

Sumber:
Kitab Ruknu Al-Ikhlas, Syaikh Ali Abdul Halim Mahmud, Darut Tauzi'

Pamoyanan, 9 Sya'ban 1437 H / 16 Mei 2016 M

Sumber : http://puipusat.org/ikhlas-dasar-pengabdian-kami-detail-25127