Risalah Dakwah dan Tarbiyah

Risalah Dakwah dan Tarbiyah

Tiga belas tahun lamanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdakwah ilallah dan mendidik orang-orang beriman di Makkah. Sekalipun pada marhalah (fase)  ini ---yang berakhir sampai hijrah ke Madinah--- dakwah Islam tampak tidak berhasil, namun realitas menunjukkan kepada kita bahwa dakwah telah mempersembahkan kemenangan besar bagi Islam atas jahiliyah. Karena pada fase ini Rasulullah  Shallallahu alaihi wa sallam mampu mentarbiyah sejumlah sahabat sehingga dapat membentuk satu jamaah yang mempunyai keistimewaan dalam aqidahnya, dalam perilaku dan tujuan hidupnya. Adakah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mempunyai madrasah untuk memberikan pelajaran dan menggembleng mereka?  Apakah Darul Arqam yang dibuatnya di dekat bukit Shafa adalah madrasah atau tempat mentarbiyah para sahabat?

Pemahaman yang sempit tentang kata "madrasah" tidak berlaku bagi Darul Arqam, karena Darul Arqam sesungguhnya merupakan madrasah yang paling besar yang dikenal oleh sejarah. Madrasah Darul Arqam ini telah mencetak pribadi-pribadi agung yang melakukan revolusi dunia paling spektakuler yang dikenal dalam jagat kemanusiaan. Lantas apakah uslub (metode)  yang digunakannya dalam marhalah ini?  Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mempelajari Al-Quran secara detail dan harus memahami sirah (sejarah) dengan mendalam.

Dengan manhaj yang unik, Al-Quran telah mentarbiyah mereka dengan real dan kongkret. Dengan ayat-ayatnya, Al-Quran menyentuh fitrah yang suci, hati yang bersih, dan akal yang sadar.

Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah penyampai (ajaran) dari Rabb-nya, uswah hasanah (teladan yang baik), dan contoh kongkret dari pengamalan manhaj Al-Quran. Beliau juga seorang juru dakwah yang paham tentang dakwahnya dan murabbi (pendidik) yang memiliki seluruh sifat tarbiyah, yang menuntun para sahabatnya untuk sampai kepada Allah melalui pemahaman, makrifah dan iman. Beliau pun membawa para sahabatnya sampai kepada Al-Quran sehingga mereka memahami Al-Quran sebagai kumpulan perintah yang harus dilaksanakan, dan jadilah Al-Quran sebagai "santapan" kalbu mereka, pakaian mereka, pemandu perilaku mereka dan penghubung mereka dengan Rabb-nya.

Dengan demikian,  maka pertemuan di Darul Arqam merupakan tarbiyah, sebagaimana qiyamulail mereka dengan membaca Al-Quran. Sementara ujian turut memainkan peranan yang besar dalam suatu tarbiyah.

Ketika penyiksaan kaum musyrikin terhadap orang-orang yang beriman semakin menjadi-jadi, maka Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berhijrah ke Habasyah agar mereka dapat beribadah kepada Allah dengan tenang di negeri tersebut, terhindar dari fitnah dan penyiksaan. Untuk itu, beliau menugaskan Ja'far bin Abu Thalib radhiyallahu anhu sebagai Amir sekaligus murabbi.

Demikian pula ketika sebagian penduduk Yastrib (Madinah) memeluk Islam, maka Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam mengirim Mush'ab bin Umair radhiyalahu anhu  sebagai juru dakwah dan murabbi untuk mendakwahi penduduk negri itu dan mentarbiyah mereka yang telah beriman, membacakan Al-Quran kepada mereka, shalat bersama mereka, dan mengajari mereka dengan apa yang telah ia dapatkan dari Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam di Makkah.

Tarbiyah tidak berhenti dengan berakhirnya periode Makkah, namun tetap berlanjut di Madinah setelah hijrah,  bahkan dengan lingkup yang lebih luas. Saat itu, mulailah Al-Quran turun membawa hukum, berbicara tentang keluarga dan masyarakat, undang-undang perang, dan perdamaian, juga tentang seluruh aspek kehidupan. Dengan begitu, maka bidang tarbiyah pun bertambah luas sesuai dengan luasnya perintah dan berbagai larangan Allah.

 Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam menjadikan masjid sebagai pusat dakwah beliau. Di dalam masjidlah, Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam shalat bersama orang-orang Islam, menyampaikan wahyu yang turun kepadanya dari Rabb-nya, menerima tamu, mengadakan halaqah pengajian dan musyawarah.

Dan orang-orang beriman, Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam memilih beberapa orang untuk berkonsentrasi penuh melakukan tugas dakwah. Untuk mereka, beliau menyediakan shuffah (bilik) masjid sebagai tempat tinggal mereka. Mereka menghafal dan mengingat setiap ayat Al-Quran yang turun dan setiap ucapan dan perbuatan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka juga menghadiri setiap peristiwa bersama Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menemani beliau saat bepergian, ketika diam (tidak bepergian) saat shalat, atau ketika di majelis-majelis ilmu beliau.

Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak meninggalkan tugas tarbiyahnya hingga beliau dipanggil oleh Allah Azza wa Jalla. Kesibukan beliau dalam bidang politik, pemerintahan dan jihad,  tidak menjadikan beliau meninggalkan kewajiban dalam mentarbiyah orang-orang beriman.

Karya gemilang yang berhasil diraih Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam tarbiyah, tidak ada duanya dalam sejarah kemanusiaan. Beliau sukses dalam membawa masyarakat Madinah ke tarap kehidupan yang paling tinggi yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh para filosof, pemikir, dan para reformis yang suntuk dalam cita-cita dan khayalan mereka. Indikasi dari keberhasilan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam mentarbiyah---sesuai dengan manhaj Al-Quran---adalah adanya perubahan jiwa, luhur dan agungnya masyarakat hingga mereka sampai ke puncaknya yang paling tinggi. (Eka Hardiana - Kontributor)


(Kitab Manhajul-Quran fit-Tarbiyah, karya: Syaikh Muhammad Syadid)

Sumber : http://puipusat.org/risalah-dakwah-dan-tarbiyah-detail-21013