Strategi Membangun Ukhuwah Islamiyah - dalam perspektif Jawa barat (*)

Strategi Membangun Ukhuwah Islamiyah - dalam perspektif Jawa barat (*)

Ukhuwah Islam dibangun di atas Aqidah. Aqidahlah yang mempersaudarakan kita muslim Indonesia dengan muslim Palestina, Suriah, Saudi, Yaman, Rohingya, Bosnia, Kashmir, Afghan, termasuk muslim China, Eropa, Afrika dan Amerika. Bahkan antara muslim Indonesia dengan muslim Andalusia (yang dalam catatan di zaman Ibnu Batutah ; penyebutan Indonesia sebagai “Andanusia” didekatkan dengan Andalusia karena kesamaan kesuburan tanahnya-red) yang kini tinggal puing-puing kejayaan masa lalu. Sehingga jadilah kesatuan Umat Islam sedunia yang membentang dari Andalusia di barat sampai “Andanusia”/ Indonesia di timur. Subhanallah.

Ukhuwah dalam Islam adalah sesuatu yang penting. Bukankah Nabi saw membangun Ukhuwah Islam setibanya di Madinah ? Dan itu beliau lakukan setelah membuat ta’sis Aqidah Islam yang kokoh dalam waktu tigabelas tahun di Mekkah. Ukhuwah mengandung barokah dimana tumbuh nilai ruhama’ bainal muslimin yang membedakannya dari asyidda’ ‘alal kuffar. Pada Ukhuwah itu pula terkandung Kekuatan. Bukankah Nabi saw mengajak kaum muslimin untuk berani angkat senjata hanya satu tahun di Madinah, satu tahun setelah terbinanya ukhuwah antara kaum Muhajirin dan Anshor ?  Kuatnya ukhuwah Islam adalah kuatnya Islam.

Ketika kekhalifahan Turki Utsmaniy menjaga ukhuwah kaum muslimin dengan memuliakan mereka, membantu mereka dan menjaga mereka dari musuh, negara begitu kuat. Bahkan menggetarkan Eropa. Seluruh bangsa di dalam kekhalifahan merasa berkewajiban menjaga kedaulatan negara. Sampai satu masa unsur kekhalifahan dipengaruhi dengan rasa superioritas Bangsa Turki dari bangsa lain. Bangkitlah rasa kebangsaan bangsa-bangsa yang ada di dalamnya. Hal itu diperparah dengan

berkembangnya isu Nasionalisme yang dihembus-hembuskan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang secara fundamental memang mengharap     kehancuran khilafah. Sehingga bangsa Mesir memerdekakan diri dengan mengungkapkan المصرللمصريين   demikian pula bangsa Arab lainnya. Terjadi Proses kebangkitan Nasionalisme Arab dengan Pan Arabisme yang diikuti oleh bangsa-bangsa lainnya. Hancurlah kekhalifahan terakhir umat Islam. (catat ; Nasionalisme yang sempit adalah Musuh ukhuwah Islamiyah).

Dalam perkembangan selanjutnya, ukhuwah Islamiyah tinggallah simbolis. Slogan yang digaungkan dalam semangat Pan Islamisme. Tetapi slogan itu hanya bisa dilakukan dalam koloni-koloni umat yang terbatas, itupun dalam aplikasinya sering terbentur realitas konflik batas negara, batas wilayah, atau kampung. Konflik Indonesia dengan Malaysia masih segar dalam ingatan kita. Kasus pulau Sipadan dan Ligitan, kasus hak paten Batik dlsb. Bahkan di masa orde lama presiden Soekarno pernah menggelorakan semangat ‘Ganyang Malaysia’. Konflik kepentingan yang berunsur materi ini  juga tidak jarang melumatkan nilai ukhuwah luhur  yang sudah terbangun sekian lama.

Budaya bangsa kaum Muslimin dunia telah berubah. Kekuatan yang terkandung dalam nilai ukhuwah Islamiyah sudah hilang, berganti dengan Materialisme yang individualistik. Walaupun upaya melanggengkan jalinan ukhuwah itu terus digalang melalui OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang digadang-gadang sebagai cikal bakal khilafah Islam di masa depan. Hal ini diperparah dengan skenario ‘Tatanan Dunia Baru(The New World Order) yang nyatanya makin menciptakan ketergantungan negara berkembang, khususnya negeri-negeri kaum muslimin kepada negeri-negeri Kafir. Skenario yang menenggelamkan dunia dalam kekacauan Ekonomi Ribawi yang parah, perang sebagai rutinitas dan kemaksiatan sebagai komoditi. (catat ; Materialisme yang individualistik melumatkan ukhuwah Islamiyah).

Secara Ideologis, dipaksakan bangkitnya kelompok-kelompok Aliran Sesat yang berupaya mempengaruhi Umat dengan doktrin-doktrin menyimpangnya. Sebut saja beberapa diantaranya seperti Ahmadiyah yang mengelola TV skala dunia dari London, atau Khawarij ISIS yang menggelorakan Jihad dengan mengusung ‘Khalifah’ tanpa persetujuan kaum muslimin atau aliran sesat lokal dengan Nabi-nabi Palsunya. Belum lagi hadirnya aliran sesat Syiah Rofidhoh yang saat ini mendominasi aliran Syiah dunia. Aliran sesat Syiah ini mengumandangkan jargon ;                   لا شرقية ولا غربية ولكن إسلامية   (Tidak Timur, Tidak Barat, tetapi Islamiyyah). Jargon itu bukan saja mengecoh banyak Umat Islam, tetapi juga para pemimpin umat ini yang terhijab dari pemahaman sesatnya Aqidah Syiah Rofidhoh ini. Umumnya mereka berteriak menyatakan : “Janganlah kita merusak Ukhuwah Islamiyah sesama kaum muslimin sehingga terjebak pada skenario Musuh Islam yang akan melemahkan kekuatan kita”.  Padahal lihatlah realitas pembantaian tigaratus ribu kaum muslimin di Suriah, atau bacalah sejarah panjang pengkhianatan Syiah. Afalaa ta’qiluun ? Perlukah ukhuwah Islamiyah dibangun dengan kaum yang sesat dan memusuhi umat Islam ? (catat ; Aliran sesat memporak-porandakan konsep ‘umat’ Islam tentang Ukhuwwah Islamiyah).

 

Apa Strategi kita untuk kembali merajut Ukhuwah dan mendapatkan kekuatan Umat Islam ?

Berikut ini adalah upaya yang dilakukan dalam perspektif masyarakat Jawa barat. Sebuah masyarakat yang memiliki patron idealisme ; Nyantri (bersekolah agama Islam, aneh kalau orang jawa barat kafir), Nyakolah (bersekolah umum, orang jawa barat ‘kudu’ bisa baca) dan Nyunda (bertradisi santun, tidak layak orang jawa barat ‘brutal’).

Pertama, yang harus kita sadari adalah bahwa terjalinnya Ukhuwah Islamiyah itu adalah semata-mata nikmat Allah.

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ( الأنفال : 63)

“Kalau engkau infakkan seluruh isi bumi, tetap engkau tidak dapat menyatukan hati manusia, tetapi Allah lah  yang menyatukan mereka.” (QS al Anfal ; 63)

Kedua, perlu dijalin silaturrahim keumatan yang terus menerus. Di Jawa barat tidak terjadi konflik yang serius tentang perbedaan masalah furu’ dalam ibadah semisal qunut atau usholli seperti di Jawa tengah atau Jawa timur. Meskipun ada pengajian yang cukup tegas membedah masalah bid’ah di masyarakat Jawa barat. Namun seruan Persatuan umat terus dikumandangkan, alhamdu lillah umat cukup dewasa untuk bersikap.

Ketiga, silaturrahim antara ulama dengan Umara. Kehadiran sosok umara yang paham Islam, membangkitkan ketsiqahan umat akan solusi atas problem yang mereka hadapi. Alhamdu lillah umumnya di Jawa barat umara lebih bernuansa Islami dibanding rakyatnya (entah itu tampilan sesungguhnya atau tipu-tipu, rakyat lah yang harus menilai).

Keempat, penyadaran umat tentang perlunya menjalin ukhuwah Islamiyah terus digelorakan dalam berbagai kesempatan. Sehingga Umat bisa membedakan ukhuwah Islam yang harus dibangun sesama orang Islam dan kewaspadaan terhadap aliran sesat yang berkembang di lingkungan mereka. Umat tergantung pada arahan para pemimpinnya. Dengan bimbingan berkelanjutan tentang ukhuwah mudah-mudahan umat makin paham tentang pentingnya hal itu.

Demikianlah beberapa upaya strategis yang dilakukan masyarakat dan pemerintah Jawa barat terkait peningkatan jalinan ukhuwah Islamiyah. Semoga bermanfaat.

 

Sumber : http://puipusat.org/strategi-membangun-ukhuwah-islamiyah---dalam-perspektif-jawa-barat--detail-23559