Wanita PUI Gelar Fusi PUI ke-64 di Komplek Rujab DPR Kalibata

Wanita PUI Gelar Fusi PUI ke-64 di Komplek Rujab DPR Kalibata

Pada tahun 1911 salah seorang ulama dan tokoh pendidikan di Majalengka yaitu K.H.Abdul Halim membentuk organisasi kemasyarakatan bernama ‘Persatuan Ummat Islam’ dan tahun 1912 seorang ulama dan tokoh pendidikan di Sukabumi KH,Sanusi mendidrikan organisasi kemasyarakan ‘Perikatan Ummat Islam Indonesia’. Pendirian ini didasarkan atas keinginan kedua tokoh tersebut (yang ternyata bersahabat sejak menuntut ilmu di timur tengah selama 3 tahun) membentuk wadah untuk berekspresi dalam mengimplementasikan konsep pendidikan, sosial, dakwah dan ekonomi untuk kemanfaatan ummat. Dengan dasar untuk memperkuat ukhuwahnya maka pada tahun 1952 kedua organisasi tersebut melakukan FUSI jadi satu organisasi bernama ‘Persatuan Umat Islam’(PUI).
Sementara itu, Wanita PUI lahir juga dari gabungan dua organisasi wanita antara organisasi Fathimiyah, yaitu nama organisasi wanita Persatuan Ummat Islam" di Majalengka dan organisasi Zaenabiyah, yaitu nama organisasi wanita "Perikatan Ummat Islam Indonesia" di Sukabumi. Keduanya berfusi menjadi “Wanita Persatuan Ummat Islam (Wanita PUI)" bersamaan dengan fusinya organisasi Persatuan Ummat Islam (PUI) dengan Perikatan Ummat Islam Indonesia (PUII).

Peringatan milad fusi sekaligus peringatan hari kebangkitan nasional bertujuan mensyiarkan Wanita PUI sebagai sebuah ormas yg berkecimpung utamanya dalam dunia pendidikan dan dakwah, membangkitkan semangat khususnya wanita dalam berperan aktif di rumah dan di masyarakat, dan merajut ukhuwah dengan ormas wanita Islam dan majelis taklim sekitar Kalibata selain juga memberikan pelayanan kongkrit kepada masyarakat.

Diselenggarakan di ruang serbaguna komplek DPR RI selama 2 hari (13-14 Mei 2016). Hari pertama fokus pada pelayanan masyarakat. Sementara Hari ke dua adalah seminar tentang peran wanita dalam menyambut kebangkitan umat. Dua hari itu dimeriahkan bazar dari industri rumah tangga dan UKM.

Hari pertama, sasarannya adalah masyarakat pangadegan dan pancoran. Adapun bentuk pelayanannya adalah penjualan sembako murah, penyuluhan dan pemeriksaan iva sebagai deteksi dini kanker serviks kerja sama dengan puskesman pangadegan, cek gula darah, kolesterol, & asam urat, ppemeriksaan gigi, pemeriksaan kepadatan tulang, dan penyuluhan herbal.

Sementara hari ke dua seminar dengan narasumber: Sri Rahayu, Ledia Hanifa, Upik Komariyah, dan Bakrun Syafi'i. Selain itu hadir jg Dr Dewi Sartika mewakili gubernur Jabar yg awalnya sebagai keynote speaker. Seminar ini mengundang pengurus ormas wanita Islam dan pimpinan majelis taklim.

Adapun isi seminar di antaranya: merunut betapa hebatnya perjuangan muslimah Indonesia sejak sebelum penjajahan. Mereka bahkan mampu mengukir sejarah dg kemampuannya yang luar biasa. Dilanjut kemudian tentang bagaimana dan mengapa wanita harus terlibat dalam aktifitas publik selain kewajibannya di rumah. Karena bagaimana pun, anak-anak butuh lingkungan. Dan lingkungan yang baik harus diciptakan. Bagaimana pula UU peradilan Indonesia yang berkaitan dengan wanita. Dan terakhir sekaligus sebagai penutup bagaimana syariat membingkai peran wanita.
Semoga Wanita PUI ke depan mampu lebih banyak berperan bagi umat sesuai dengan ishlahuts tsamaniyah.

Sumber : http://puipusat.org/wanita-pui-gelar-fusi-pui-ke-64-di-komplek-rujab-dpr-kalibata-detail-25126